Smartphone Membuat Anda Lebih Bodoh

SMARTPHONE Membuat Anda Lebih Bodoh

piv

         Perkembangan teknologi dewasa ini semakin canggih.Termasuk perangkat komunikasi atau lebih dikenal dengan oleh masyarakat dengan sebutan HP (Handphone).Bentuk dan fitur-fitur ponsel berkembangan dengan sangat pesat.Jika dulu anda harus mengenggam sebuah ponsel yang berukuran besar,maka hari ini anda akan dimanjakan dengan bentuk hp yang didesain dengan tipis, ringan dan praktis. Fitur-fitur modernpun ditambahkan seperti  browser, fb, twitter dan lain-lain.  Memberikan anda kemudahan untuk akses internet.Derasnya aliran informasi akan mudah anda dapatkan, apa yang dilakukan seseorang? dimana lokasi seseorang? dengan mudah anda ketahui.

         Namun,sayangnya perkembangan ini tidak ditanggapi dengan sebuah sikap yang kritis dan sikap antisipasi yang kuat.Kebanyakan masyarakat lebih cendrung menerima pengembangan ini dengan tangan terbuka.Padahal dampak yang diberikan oleh ponsel pintar (smartphone) ini sangat berbahaya.Dampak yang dihasilkan akan berpengaruh dari sisi ekonomi,sisi sosial,kesehatan bahkan berpengaruh pada keadaan psikologis manusia.

         Disini penulis hanya akan membahas permasalahan yan berkaitan dengan sikap generasi muda dalam penggunaan smartphone. Pada dasarnya generasi muda adalah generasi yang seharusnya kritis dalam menyikapi segala sesuatu. Namun, dari pengamatan kecil-kecilan yang penulis lakukan, kenyataannya generasi muda saat ini terlalu dimanjakan dengan kemudahan yang diberikan oleh smartphone itu sendiri .Seperti akses internet yang mudah didapatkan, ditambah dengan fitur-fitur canggih seperti kamera, mp3 maupun cloud computing. Mereka  terlena dan terkesan lemah. Ini disebabkan hampir semua hal yang mereka butuhkan telah dipenuhi dengan mudah oleh smartphone.

        557968_544801255542057_264563318_n Smartphone dikabarkan dapat membuat seseorang menjadi bodoh karena banyak orang semakin malas karenanya. Sebuah foto yang beredar di dunia maya menunjukkan bagaimana para mahasiswa lebih suka memotret layar pembelajaran di depan kelas ketimbang mencatatnya di buku atau menulis ulang di laptop.Kebutuhan akan informasi dan ilmu hanya sebatas pengetahuan dari smartphone

         Mengutip dari teori Rene Decreates seorang filsuf prancis “Cogito ergo sum” yang maksudnya adalah “Aku Berpikir Aku Ada”.Bandingkan pola pikir Ilmuan-ilmuan pada masa Al-Khawarizmi maupun pada masa Isac Newton atau ilmuan yang hidup diera 80-an dan 90-an mereka adalah ilmuan-ilmuan yang memiliki pola pemikiran luar biasa. Cogito Ergo Sum Aku Berpikir Aku ada. Mereka adalah manusia-manusia yang selalu berpikir keras untuk membuktikan bahwa apa yang mereka pikirkan itu ada.Ada tiga pertanyaan mendasar menjadi pola pikiran seperti ini yaitu “APA” “KENAPA” “BAGAIMANA”.

  1. APA . Apa yang dipikirkan?
  2. KENAPA.Kenapa sesuatu itu harus terjadi?
  3. BAGAIMANA.Bagaimana sesuatu itu terjadi?

         Pola berpikir seperti inilah yang membawa ilmuan-ilmuan tersebut berhasil menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.Karena pola berpikir mereka adalah Aku berpikir Aku ada.Ekstensi dari kata “Ada” mendorong mereka untuk menciptakan suatu benda.

         Kembali kezaman smartphone. Ketika yang sebenarnya pintar dan memegang ilmu itu adalah ponselnya bukanlahpenggunanya. Pengguna (user) hanya sebatas pengguna bukan penganalisa. Anda mungkin tidak sependapat dengan saya, dalam benak anda mungkin timbul pernyataan “Justru karena adanya smartphone zaman sekarang orang semakin pintar. Tentu saja seseorang tidak perlu menuggu lama untuk mencari informasi, browsing digoogle dan anda akan mendapatkan hasilnya. Atau cukup log-in  twitter dan facebook anda akan tau apa yang seseorang itu sedang lakukan”.Karena kemudahan akses informasi inilah membuat kebanyakan mahasiswa bergantung ilmunya dari internet, ilmu yang didapat hanya baru menyentuh permukaan saja atau dengan kata lain hanya sebatas pertanyaan “APA”.Mereka tidak tertarik untuk membahas lebih dalam menjawab pertanya “KENAPA” dan “BAGAIMANA” yang disebabkan oleh kemudahan akses informasi ini.

         Sekarang coba perhatikan kebanyakan remaja disekitar anda? Apa yang mereka lakukan?. Diperkotaan besar ,penulis yakin jawabannya pasti kebanyakan dari mereka lebih fokus pada ponsel masing-masing. Jauh lebih baik jika apa yang mereka perhatikan pada ponsel mereka berupa informasi yang bermanfaat seperti berita , tapi bagaimana jika kebanyakan dari mereka hanya terfokus pada jejaringan sosial seperti fb, twitter. Sikap seperti bisa mempengaruhi kondisi psikologis mereka.Kemungkinan terjadi adalah mereka mengidap Nomophobia(1). Suatu kondisi dimana mereka tidak bisa lepas dari gadget , mereka cemas jika tidak mengecek ponselnya, mereka seperti orang gila jika kehilangan ponsel mereka, mereka cemas dan khawatir jika tiba-tiba ponsel mereka kehilangan sinyal atau kehabisan batere.

         Dalam kehidupan sosial .Dampak yang diberikan berpengaruhi bagaimana sikap mereka dalam berinteraksi dengan masyarakat .Jika mereka fokus 24/7 hanya untuk gadget mereka, maka dalam jangka 10 tahun tidak mengherankan jika generasi saat ini akan sulit untuk berkomunikasi secara verbal. Mereka terasa canggung untuk berbicara dan mengambil keputusan.

        Ada satu kasus nyata. 10 tahun lalu jika ada sebuah perkumpulan maka masing-masing orang akan fokus kepada siapa yang berbicara, pergaulan lebih terasa berwarna karena setiap orang mendengarkan dan saling menatap lawan bicara mereka. Namun, pergaulan saat ini menunjukkan jika ada perkumpulan, maka masing-masing orang lebih terfokus pada ponselnya masing-masing, pembicaraan terasa canggung, yang jauh menjadi lebih dekat dan yang dekat menjadi semakin jauh. Kasus seperti ini tidak boleh dibiarkan keadaan seperti inilah yang lebih sering memicu perpecahan didalam masyarakat karena terbentuknya sikap individualisme.

        Oleh karena itu jadilah pengguna yang cerdas. Smartphone, tablet maupun gadget canggih lainnya tak lain hanyalah sekedar benda yang tidak bisa apa-apa jika tidak diberikan input oleh penggunanya. Input yang berasal dari pengguna inilah yang menjadi patokan oleh smartphone. Apakah inputan itu bermanfaat baginya atau inputan yang dimasukannya malah membuat ia menjadi budak dari smartphone nya sendiri.

Catatan kaki:

(1)Sanjay Dixit, Harish Shukla , Akansha Shrivastava.  A Study to Evaluate Mobile Phone Dependence Among Students of a Medical College and Associated Hospital of Central India (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2940198/),2010 , hal 1

Referensi :

Sullivan ,Whose idea was it to give smartphones to stupid people? (http://metronews.ca/voices/just-saying/351863/whose-idea-was-it-to-give-smartphones-to-stupid-people/). (Diakses pada tanggal 2 Oktober 2013).

ALEXSHABALDIN. We live in the era of smartphones and stupid people (The second draft) (http://alexshabaldin.wordpress.com/2012/12/05/we-live-in-the-era-of-smartphones-and-stupid-people-the-second-draft/). (diakses pada tanggal 2 oktober 2013)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s